Senin, 23 Agustus 2010

MARI BERANTAS KORUPSI

Selayang Pandang
Korupsi yang menjangkiti birokrasi bangsa ini sudah merupakan budaya yang menjalar ke semua lini kehidupan. Bahkan lembaga penegak hukum yang seharusnya paling depan menangani masalah korupsi ternyata juga ikut terkontaminasi. Demikian juga pengelola lembaga-lembaga dalam bidang pendidikan yang seharusnya diharapkan dapat membuat tandingan terhadap budaya korupsi mungkin malah ikut membudayakan praktek korupsi. Nampaknya berlaku bahwa ketika orang masuk ke dalam sistem yang sakit (korup) maka ia cenderung menjadi ikut sakit (korup), sehingga korupsi dapat berkembang mulai dari yang kecil-kecil hingga menjadi begitu besar.
Anak bangsa penerus tampuk kepemimpinan yang anti korupsi tidak dapat dengan sendirinya tumbuh karena mungkin harus berhadapan dengan senior-senior yang sakit dalam sistem yang tidak kondusif, yang mungkin sudah terlanjur begitu dekat dengan perilaku korupsi (misalnya manipulasi anggaran, proyek akal-akalan, jaringan asal bapak senang, jilat-jilatan, suap-suapan, kuitansi palsu, mark up harga, tender palsu dan istilah-istilah lain yang tidak enak didengar oleh orang yang mau berlaku baik).
Budaya korupsi dapat merusak tata kerja sistem birokrasi kepegawaian yang sehat, sehingga pada akhirnya menghambat pembangunan yang sedang dilakukan. Mulai dari merusak sistem penerimaan pegawai baru, merusak etos kerja semangat berprestasi, merusak sistem kenaikan pangkat dan mutasi pegawai. Walaupun jelas buruk, budaya korupsi ini ternyata mempunyai pendukung-pendukung yang beragam mulai dari yang sekedar berpartisipasi sampai ke tataran aktivis yang begitu panatik, sehingga dengan sukarela bersedia menyingkirkan orang yang tidak ikut mendukung korupsi. Jika penyingkiran tidak memungkinkan maka paling tidak mereka melontarkan cacian diplomatis misalnya dengan kata-kata : tidak gaul, tidak fleksibel, kaku sok idealis, sok suci, berlaga menantang arus dan lain-lain kepada orang yang tidak mendukungnya yang mungkin dapat memerahkan telinga. Para pendukung korupsi berperan dalam menyebarkan jargon-jargon atau selogan-selogan negatif yang membuat mentalitas anak bangsa menjadi lemah dan putus asa untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Oleh karena itu tidak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk membiarkan korupsi tumbuh subur di negeri ini.
Penyakit korupsi tidak mungkin hilang dengan sendirinya, diperlukan usaha terapi yang sungguh-sungguh dari semua komponen bangsa ini untuk menyembuhkan penderitaan sakit korupsi yang terlanjur dalam.

Terapi Melalui Pemimpin
Munculkan pemimpin yang anti korupsi. Pemimpin ini harus bersih dari perilaku korupsi, dan punya keberanian, komitmen dan kesungguhan dalam menumpas korupsi. Dengan pemimpin yang demikian diharapkan dapat menggerakan bawahan yang dipimpin untuk berpartisipasi aktif dalam membasmi korupsi.

Terapi Melalui Sistem
Sistem harus dibentuk sedemikain hingga tidak memungkinkan perilaku korupsi dilakukan. Hal ini misalnya dilakukan dengan membuat peraturan, pengawasan dan sanksi yang ketat terhadap mekanisme penerimaan pegawai baru, prosedur kerja, mutasi pegawai, kenaikan pangkat dalam birokrasi kepegawaian.

Terapi Melalui Politik
Dalam rangka mendukung pemberantasan korupsi pada sistem parlemen dan pemerintahan sudah selayaknya diadakan pendidikan kader politik dan abdi bangsa yang mengembangkan sikap dan perilaku anti korupsi (tapi bukan pemaksaan idiologi pada warga negara seperti penataran P4, sebab idiologi adalah hak asasi individu, namun kewajiban individu adalah menjaga ketertiban dan mentaati undang-undang yang berlaku) yang didasarkan pada nilai spiritual dan keyakinan yang telah dianut kader atau peserta pendidikan. Pendidikan tersebut harus bersifat praktis dan studi lapangan serta pemecahan kasus yang benar-benar terjadi pada masyarakat, sehingga diharapkan hasil dari pendidikan tersebut adalah semua anggota parlemen dan abdi Negara yang aktif bertugas terbebas dari korupsi. Pendidikan pegawai baru (prajabatan) juga seharusnya diarahkan pada pembentukan mentalitas pribadi pegawai yang baik sehingga dapat benar-benar mendukung pemberantasan korupsi, sehingga dihasilkan pegawai abdi Negara yang tidak pernah kompromi dengan korupsi walaupun diberi iming-iming atau ancaman. Pegawai abdi Negara yang siap mengabdi dan melayani rakyat dengan senang dan sepenuh hati.

Terapi Melalui Semua Lapisan
Pemberantasan korupsi harus dilakukan pada semua lapisan masyarakat. Semua lingkungan harus bersih dari korupsi. Pusat harus bersih. Daerah propinsi harus bersih. Kabupaten dan kota madya harus bersih. Kecamatan harus bersih. Desa harus bersih. RW dan RT harus bersih. Bahkan tingkatan keluargapun harus bersih dari jiwa korupsi. Karena dari keluarga yang anti korupsi akan terlahir anak bangsa yang pantang melakukan korupsi dimana saja, kapan saja, pada lembaga apa saja, dilihat orang atau tidak, korupsi no way!
Demikian juga semua lembaga Negara bangsa ini, baik lembaga departemen maupun non departemen semua haarus bersih dari korupsi. Apalagi lembaga yang mengurus masalah pendidikan, maka harus benar-benar bebas dari praktik busuk korupsi, baik korupsi terang-terangan maupun korupsi terselubung.

Terapi Melalui Dunia Pendidikan
Lembaga pendidikan adalah benteng pertahanan anti korupsi, karena dari lembaga inilah seharusnya ditebar benih-benih budaya tandingan korupsi, yaitu karakter terpuji dan pribadi yang menawan pada anak bangsa yang diprogram dalam kurikulum pendidikan. Kinerja pegawai lembaga pendidikan seharusnya mencerminkan pelaksanaan pendidikan yang penuh kearifan dan kebijakasanaan serta kasih sayang yang tulus, bukan yang hanya karena sebab kebutuhan materi sehingga tega berbuat tidak adil dan tidak terpuji kepada yang lain ataupun bahkan kepada temannya sesama pegawai, jeruk makan jeruk.
Pada bagian ujung tombak pendidikan yaitu pada tataran sekolah, harus terjamin bahwa penebaran benih-benih anti korupsi telah dilakukan dan didukung oleh semua pihak. Mulai dari suri tauladan kepala sekolah beserta dewan guru berusaha membentuk pribadi-pribadi berkarakter baik dan mantap yang anti pada korupsi bagi warganya (terutama para peserta didik), yaitu berkarakter jujur, adil, dapat dipercaya, bersahaja, cermat, hemat, dermawan, penolong, patriot, kasih sayang, berperikemanusiaan, bertaqwa dan sebagainya. Kepala sekolah harus berada pada garis depan dalam memberantas korupsi di lingkungan sekolahnya, dengan melaksanakan manajemen yang baik, bersih dan transparan, yang harus terbebas dari manajemen manipulasi akal-akalan, program fiktif, kuitansi palsu, mark up harga, dan sebagainya yang hanya sekedar untuk menumpangkan pemenuhan kepentingan pribadi atau kelompoknya dengan biaya anggaran sekolah.
Lembaga-lembaga yang ada di dunia pendidikan harus berperan maksimal dalam memberantas korupsi. Lembaga-lembaga inilah yang seharusnya bertanggung jawab menumbuhkan budaya tandingan terhadap korupsi. Lembaga-lembaga ini harus memberikan contoh baik dalam mekanisme kerjanya, apalagi yang bertugas langsung memberikan pelayanan pada masyarakat. Pengelola lembaga-lembaga tersebut harus benar-benar loyal pada tujuan mulia, bukan hanya sekedar menyenangkan atasan, mereka harus terbebas dari perilaku buruk. Menteri pendidikan nasional, dirjen pendidikan, para kepala kanwil pendidikan propinsi, para kepala dinas pendidikan kabupaten, para kepala dinas cabang pendidikan kecamatan, mereka semua harus menjadi nomor satu dalam memberantas korupsi di tempat kerjanya. Mereka harus peduli dan berani menghilangkan kebiasaan-kebiasaan kerja buruk pada instansinya yang cenderung kearah korup, apalagi yang jelas-jelas kegiatan korupsi harus segera dihentikan sama sekali. Pengelolaan dana kepegawaian harus bijaksana sesuai dengan perencanaan program yang matang, tidak boleh ada proyek asal-asalan (misalnya hanya dalam rangka menghabiskan anggaran sisa, atau hanya sekedar untuk membuat alasan untuk membagi-bagikan uang anggaran). Apalagi proyek piktif ini lebih tidak boleh lagi. Peningkatan kualitas pegawai harus serius dilakukan berdasarkan program yang baik dan pelaksanaan yang bisa dipertanggungjawabkan. Semua pegawai harus diperlakukan dengan adil, misalnya mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan dan jenjang karirnya. Apalagi untuk pegawai pendidikan di lapangan –guru– , mereka semua harus mendapat prioritas utama dalam pemberdayaan dirinya dengan penataran dan pelatihan yang terprogram dan terarah sehingga dapat melayani peserta didik (anak bangsa yang diharapkan jadi tulang punggung bangsa kelak) dengan layanan prima.

Terapi Melalui Budaya
Akhirnya akar korupsi harus dipangkas habis. Akar korupsi adalah mentalitas atau jiwa korupsi yang tertanam dalam benak seseorang, yang kemudian tumbuh menjadi perilaku dan kebiasaan yang akhirnya mem-budaya. Korupsi dipicu oleh keadaan jiwa yang materialistis, yang mengukur kemajuan manusia hanya dengan perolehan materi belaka, sehingga menyangka bahwa mereka yang berhasil hidupnya (sukses) adalah mereka yang dapat mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya.
Dengan banyak materi mereka menyangka bahwa mereka layak disanjung setinggi-tingginya. Dengan banyak materi mereka juga menyangka bahwa mereka dapat melakukan dan memperoleh apapun yang diinginkan. Karena itu, mereka adalah orang yang paling bersemangat dalam mengumpulkan materi walau harus dilakukan dengan cara apapun. Karena terlalu semangatnya mereka akhirnya ‘terpaksa’ (kemudian menjadi terbiasa) melakukan dusta serta pemalsuan bahkan sampai taraf penganiayaan dan penindasan demi memperoleh materi, sehingga mereka lupa pada hati nurani sendiri. Lama-lama perasaan kemanusiaan mereka menjadi kerdil, lalu tumbuh sikap egois, serakah dan sombong. Inilah yang menyeret mereka ke dalam budaya korupsi. Karena sering dilakukan serta begitu dihayati akhirnya kegiatan praktik korupsi menjadi begitu megah dan hebat, begitu sulit untuk dibongkar, melibatkan banyak orang dan banyak cara dengan strategi jitu dengan sistem permainan yang sangat cantik.
Oleh karena itu, untuk benar-benar dapat menumpas korupsi maka harus dibangun budaya tandingan yaitu budaya adiluhur (akhlakul karimah) yang didukung oleh pribadi penawan dan karakter terpuji. Budaya yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Budaya yang menghargai nilai relijius. Budaya yang indah karena dilandasi oleh kasih sayang. Budaya saling memberi dan menerima. Budaya yang mendukung bekerja sama hanya dalam kebaikan. Budaya yang menghargai etos kerja. Budaya yang selalu optimis dengan massa depan. Budaya yang menempatkan kedudukan orang sesuai dengan hasil karya dan pengabdiannya bagi sesama. Semakin baik hasil karya amal seseorang semakin tinggi kedudukannya, demikian juga semakin banyak seseorang bermanfaat bagi sesama semakin tinggi pula kedudukannya. Mereka yang banyak berkarya baik dan banyak bermanfaat bagi sesamalah yang patut disanjung tinggi-tinggi.Materi (harta benda) dan kekuasaan bagi budaya ini adalah hanya merupakan alat untuk bisa lebih bermanfaat bagi sesama, bukan sebagai tujuan utama untuk berbangga-bangga diri dan mencapai segala keinginan nafsu yang tidak akan pernah puas.
Semoga dengan pertolongan Allah SWT, kita segera terbebas dari malapetaka akibat korupsi, sehingga jaman berganti menjadi Indonesia makmur yang sejahtera lahir dan bathin seluruh warganya. Amien.

Kamis, 05 Agustus 2010

Pembuka......

Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.
Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam.
Yang maha pemurah lagi maha penyayang.
Yang menguasai hari penentuan.
Hanya kepada-Mu kami menyembah.
Hanya kepada-Mu kami memohon.
Tunjukkan kami jalan kebenaran.
Jalan yang ditempuh manusia yang telah Engkau beri nikmat
Bukan jalan yang ditempuh manusia yang telah Engkau beri murka
dan bukan pula jalan yang ditempuh manusia tersesat.
Semoga Engkau berkenan mengabulkan permohonan kami (Amien).
Wallahu a'lam.

Rabu, 04 Agustus 2010

Baca.... Renungkan...

Aku berlindung kepada Allah dari tipu daya setan yang terkutuk.
Dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.
Baca! (Pahami dengan menggunakan potensi indera, hati dan pemikiran-mu)
Baca dengan nama Tuhan-mu yang menciptakan.
Yang menciptakan manusia dari 'alaqoh'(zygot yang menempel pada rahim).
Baca!
Dan Tuhan-mu begitu mulia.
Dia-lah Yang mengajarkan manusia dengan sistem tulisan.
Dia mengajarkan manusia ilmu pengetahuan.
Perhatikan! Sungguh manusia itu begitu keterlaluan
hanya karena memandang dirinya banyak harta.
Sungguh kepada Tuhan-mu berpulang.
Adakah engkau lihat orang yang menghalang-halangi
seorang hamba ketika mememuja dan memohon kepada Tuhan-nya
adakah engkau lihat itu merupakan tindakan terpelajar?
Atau Orang yang menganjurkan untuk bertaqwa kepada Allah
adakah engkau lihat itu merupakan tindakan dusta dan pembangkangan?
Apakah belum tahu bahwa Allah itu Maha Mengawasi?
Perhatikan! Sungguh jika tidak berhenti maka benar-benar akan kami tarik ubun-ubunya
Ubun-ubun pendusta dan pembangkang
Maka silahkan panggil pasukan pembela
Maka kami-pun panggil malaikat penyiksa
Perhatikan! Janganlah engkau mematuhinya dan bersujudlah serta mendekatlah kepada Tuhan-mu.

Rabu, 21 Juli 2010

Perjalanan hidupku

Alhamdulillah dulu aku telah terlahir
dan terus tumbuh serta berkembang
dari bayi yang tidak berdaya, lalu menjadi anak yang alamiah kekanak-kanakan
kemudian mencari jadi diri jatuh dan bangun sebagai remaja menjelang dewasa
hingga sekarang menjadi seorang bapak dengan dua anak dari seorang istri
bahkan juga menjadi seorang guru SMA.

Alhamdulillah ya Allah telah Engkau beri aku telinga dan mata serta pancaindera
dengan itu aku telah Engkau beri kesempatan untuk menerima informasi
tentang anugrah hidup dan kenyataan yang Engkau berikan ya Allah.
Bahkan juga Engkau berikan Alqur'an sebagai pedoman perjalanan panjang.

Detik berganti detik dan waktupun terus berubah
Sedih dan gembira
Suka dan duka
Siang dan malam
Sanjungan dan cercaan
Sempit dan lapang
Sehat dan sakit
kecemasan dan harapan
dan lain-lain perasaan
semua itu pernah kualami bahkan silih berganti
sehingga menorehkan kesan begitu dalam
bahwa Engkau memang Maha Besar Allahu Akbar....
hanya Engkau yang sebenarnya patut dipuji dan dimohon pertolongan ....
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau ya Allah
dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Engkau ya Allah.